Kalau kamu bilang nyasar itu pengalaman lucu, itu memang lucu kalau kamu tidak sedang mengalaminya. Paling tidak bisa dibilang lucu setelah pengalaman nyasar itu terjadi. Tapi tidak saat sedang nyasar.
Hari ini cuaca cukup cerah sedari pagi. Saya bahkan sempat berjalan-jalan sekitar 1 jam. Siang hari juga masih berjalan santai. Mood saya terus bagus hingga sore. Saya pun juga menyempatkan diri untuk berjalan-jalan sekitar setengah jam. Sampai kemudian saya tergoda melihat bus di depan rumah. Rencananya saya baru akan mencoba bus itu minggu depan, tapi bukan saya kalau nggak suka nekat.
Rencana turun di Stasiun Fukushima, saya malah memutuskan berhenti di tengah jalan. Saya kemudian masuk ke salah satu pusat perbelanjaan dan melihat benda-benda lucu. Keluar tempat itu, saya ternyata ada di tempat perhentian terakhir bus. Kemudian baru sadar bahwa banyak bus di sana dan saya tidak tahu berangkat tadi naik bus nomor berapa. Dan apakah saya harus mengakui kalau saya tidak tahu rumah homestay saya ini ada di mana??
Saya sempat membayangkan bakal tidur di mana kalau saya nggak menemukan bus yang saya tuju. Saya sebenarnya nggak masalah nggak pulang malam ini. Toh saya juga tinggal sendiri. tapi khawatir kalau ada orang yang tidak menemukan saya besok pagi.
Gugup, saya mencoba menelepon kenalan saya lewat telepon umum dan tidak berhasil. Makin gugup, saya mencoba ke pusat informasi dengan bahasa seadanya sambil terus gugup. Seorang petugas akhirnya mengantarkan saya ke telepon umum (yang lain) dan membantu saya menelepon kenalan saya tersebut. Takahashi-san bilang kalau saya sebaiknya bertanya bus ke arah Niwazaki dan bertanya di mana Menkyo Center (sebenarnya, saya bahkan tidak tahu bagaimana penulisannya). Kembali ke petugas tersebut, dia berkata bahwa bus saya adalah nomor 12.
Karena bus terakhir ada di tengah malam, saya kembali ke pusat perbelanjaan tersebut dan membeli makanan. Naiklah saya ke bus nomor 12 sambil terus gugup apakah benar bus yang saya tuju. Saya mulai tambah khawatir ketika layar di bus menunjukkan bahwa saya harus membayar 530 yen, padahal sebelumnya saya hanya membayar 510 yen. Saya bertanya kepada supir dan terungkap bahwa bus itu tidak lewat Menkyo Center (atau apalah itu namanya). Dan dengan pede setengah mati, saya turun di jalan yang berangin dan gelap dan nggak ada orang selain saya.
Setiap nyasar, saya selalu punya kemampuan berpikir bahwa saya akan baik-baik saja. Untung pula sore saya sempat berjalan-jalan sedikit dan saya melihat satu toko yang saya sempat lihat di sore. Tapi tetap saja saya masih belum hafal jalan. Saya terus berjalan sambil yakin kalau saya masih di jalur yang salah. Saya coba menghentikan satu mobil untuk bertanya tapi mobil itu tidak berhenti. Dan tidak ada satu toko yang buka. Kemudian satu mobil lewat untuk parkir di rumahnya saya pun bertanya kepada ibu tersebut saat ia turun dari mobil. Dan saya dengan jagonya cuma mengerti dua kata “Migi = kanan” dan “Kombini = minimarket”, kata-kata yang lain dikira-kira sendiri artinya.
Dan setelah akhirnya berjalan sekitar 15 menit di hembusan angin yang syukurnya nggak begitu kencang, sendirian, gelap, dan cukup syok, saya akhirnya melihat bangunan-bangunan yang saya lihat sebelumnya di sore.
Tadaima.