Dingin

Selama ini, di Indonesia pun kalau pergi ke daerah pegunungan atau dataran tinggi, saya paling payah. Badan pegel-pegel, belum kalo kumat gatel-gatel, dan karena saya sudah berbakat males, maka ya males terus bawaannya. Saya menyadari kalau saya tinggal di sini saya bakal hidup sendiri dan benar saja seseorang yang harusnya tinggal sama saya membatalkan rencananya sehingga saya nggak bisa peluk-peluk dia kalo kedinginan #terdengarsalah

Program tinggal yang saya ambil ada beberapa pilihan masa tinggal. Dan saya mengambil untuk mulai bulan Maret. Alasannya adalah saya mau menghindari musim dingin. Paling tidak kalau masih ada jejak musim dingin, sudah nggak begitu dahsyat lagi.

Ternyata sampai sini,,,, masih dingin TT____TT

Bermodal nekat bawa satu sweater dan satu jaket tebal, saya mengutuk diri sendiri nggak bawa jaket yang selama ini sering saya pake. Salju masih turun dan lokasi tempat tinggal saya pun ternyata di bawah gunung. Kalau ada matahari, angin masih mak wus mak wus.

Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang sudah membuat badan manusia sedemikian rupa untuk mulai beradaptasi. Tentu saja di pagi saya masih suka barr berrr barr berr. Juga kepada Kuasa-Nya yang menciptakan manusia mampu berpikir untuk membuat pemanas untuk segala hal.

Tapi tentu saja ada hal yang asik. Misalnya, saya nggak perlu sering ganti-ganti baju jadi cuciannya dikit. Trus yang paling asik, saya nggak perlu sering-sering mandi.

Anak Perempuan

Saya sedang sangat penasaran kalau saya anak laki-laki apakah saya akan mendapat perlakuan yang sama di sini?

Di sini, saya selalu dibilang imut dan terlihat pintar *nyengir kuda*. Trus saya tak henti-hentinya diajak kesana kemari. Trus saya selalu dibantu. Seperti setelah saya cerita saya nyasar kemarin, orang-orang di sini langsung memberi nomor telepon dan bilang telepon aja kapanpun saya butuh. Kalau nyasar lagi, langsung telepon dan minta dijemput. Saya bahkan juga dikasih kartu telepon.

Trus, setiap saya pergi, saya belum pernah mengeluarkan uang sepeser pun (kecuali adegan nyasar kemarin itu). Dikasih makanan, permen, es krim, kopi, dan macam-macam lainnya.

Terakhir, akhirnya tadi ada yang bilang kalimat yang saya tunggu-tunggu satu minggu ini. “You have big eyes. I like it”.

Sekian :p

Nyasar

Kalau kamu bilang nyasar itu pengalaman lucu, itu memang lucu kalau kamu tidak sedang mengalaminya. Paling tidak bisa dibilang lucu setelah pengalaman nyasar itu terjadi. Tapi tidak saat sedang nyasar.

Hari ini cuaca cukup cerah sedari pagi. Saya bahkan sempat berjalan-jalan sekitar 1 jam. Siang hari juga masih berjalan santai. Mood saya terus bagus hingga sore. Saya pun juga menyempatkan diri untuk berjalan-jalan sekitar setengah jam. Sampai kemudian saya tergoda melihat bus di depan rumah. Rencananya saya baru akan mencoba bus itu minggu depan, tapi bukan saya kalau nggak suka nekat.

Rencana turun di Stasiun Fukushima, saya malah memutuskan berhenti di tengah jalan. Saya kemudian masuk ke salah satu pusat perbelanjaan dan melihat benda-benda lucu. Keluar tempat itu, saya ternyata ada di tempat perhentian terakhir bus. Kemudian baru sadar bahwa banyak bus di sana dan saya tidak tahu berangkat tadi naik bus nomor berapa. Dan apakah saya harus mengakui kalau saya tidak tahu rumah homestay saya ini ada di mana??

Saya sempat membayangkan bakal tidur di mana kalau saya nggak menemukan bus yang saya tuju. Saya sebenarnya nggak masalah nggak pulang malam ini. Toh saya juga tinggal sendiri. tapi khawatir kalau ada orang yang tidak menemukan saya besok pagi.

Gugup, saya mencoba menelepon kenalan saya lewat telepon umum dan tidak berhasil. Makin gugup, saya mencoba ke pusat informasi dengan bahasa seadanya sambil terus gugup. Seorang petugas akhirnya mengantarkan saya ke telepon umum (yang lain)  dan membantu saya menelepon kenalan saya tersebut. Takahashi-san bilang kalau saya sebaiknya bertanya bus ke arah Niwazaki dan bertanya di mana Menkyo Center (sebenarnya, saya bahkan tidak tahu bagaimana penulisannya). Kembali ke petugas tersebut, dia berkata bahwa bus saya adalah nomor 12.

Karena bus terakhir ada di tengah malam, saya kembali ke pusat perbelanjaan tersebut dan membeli makanan. Naiklah saya ke bus nomor 12 sambil terus gugup apakah benar bus yang saya tuju. Saya mulai tambah khawatir ketika layar di bus menunjukkan bahwa saya harus membayar 530 yen, padahal sebelumnya saya hanya membayar 510 yen. Saya bertanya kepada supir dan terungkap bahwa bus itu tidak lewat Menkyo Center (atau apalah itu namanya). Dan dengan pede setengah mati, saya turun di jalan yang berangin dan gelap dan nggak ada orang selain saya.

Setiap nyasar, saya selalu punya kemampuan berpikir bahwa saya akan baik-baik saja. Untung pula sore saya sempat berjalan-jalan sedikit dan saya melihat satu toko yang saya sempat lihat di sore. Tapi tetap saja saya masih belum hafal jalan. Saya terus berjalan sambil yakin kalau saya masih di jalur yang salah. Saya coba menghentikan satu mobil untuk bertanya tapi mobil itu tidak berhenti. Dan tidak ada satu toko yang buka. Kemudian satu mobil lewat untuk parkir di rumahnya saya pun bertanya kepada ibu tersebut saat ia turun dari mobil. Dan saya dengan jagonya cuma mengerti dua kata “Migi = kanan” dan “Kombini = minimarket”, kata-kata yang lain dikira-kira sendiri artinya.

Dan setelah akhirnya berjalan sekitar 15 menit di hembusan angin yang syukurnya nggak begitu kencang, sendirian, gelap, dan cukup syok, saya akhirnya melihat bangunan-bangunan yang saya lihat sebelumnya di sore.

Tadaima.

Sidik Jari ? Tidak ada.

Hal yang sudah saya khawatirkan dari tahun lalu adalah ketika pembuatan paspor saya dan pihak imigrasi tidak bisa mendeteksi sidik jari saya. Hebat kan. Saya sempat panik dibuatnya. Berkali-kali pun sidik jari saya tidak terdeteksi. Waktu itu saya khawatir paspor saya tidak bisa dibuat padahal saya sudah antre lamanya bukan kepalang. Akhirnya sidik jari yang terdeteksi adalah sidik jari kelingking di salah satu tangan saya saja. Itupun juga memiliki kualitas yang buruk.

Sampailah saya khawatir lagi, ketika beberapa waktu lalu masuk Malaysia. Saya pergi ke imigrasi untuk lapor diri (sebenernya nggak perlu nggak papa deh). Dan saat saya sedang antre, durudududu.. alat pendeteksi sidik jari sudah di depan mata bikin saya was was. benarlah dudududududu… Malaysia pun digoyang.. sidik jari saya (telunjuk) tidak bisa terdeteksi.

Masuk Jepang, tangan saya sudah kering bukan kepalang. Maklum, saya kan manusia tropis sejati. Di rumah saja, kondisi tangan musti basah biar ada kekuatannya. Lalu. durudududududu.. masuk imigrasi ada alat sidik jari lagi. dan sesuai judul tulisan ini, jari saya tidak terdeteksi lagi… syalalalalalala…

Waktu saya cerita sama salah satu orang, dia bilang, “Kamu manusia bukan?”

Jadi, maling-maling, nggak ada yang mau ngerekrut saya??

Oiya, silahkan mampir ke sini untuk membaca cerita-cerita saya dalam Bahasa Inggris. Kalo di sini, buat nyampah aja. Hehehhe…

I’m Leaving ….

First, I want to say that I feel awkward and confused writing my blog in English. I am not a good English writer, anyway. But I think I must start to practice from now since my next-3-months- posts will be written in English. Why? Well, I think I just have to.

So, after been waiting for 17 months, on next not-until-48 hours, I will leave my home temporarily. This is gonna be my first travel abroad experience and I will go by myself. That’s why I am so excited and also nervous on the other hand.

So, where? Japan.

Why? I’ll let you know the details on the next posts.

Wish me luck!! No asking for souvenirs unless you give me some thousands of Yen!

Carnival – Di Balik Layar

Carnival #3

Sebelumnya, saya gagal memenuhi program menulis fiksi #20HariNulisDuet. Alasannya, saya jadi kepikiran terus dan membuat saya sering-sering mengecek twitter dan email, yang itu membuat saya tidak nyaman. Lalu, saya malas juga mencari teman berduet. Alasan lain, pada beberapa hari yang singkat itu, saya sempat tidak menemukan kenyamanan untuk berdiskusi. Salahkan saya yang terlalu soliter, pemirsa.

Pada salah satu di hari yang singkat itu, saya sempat memaksa,,nng..bagaimana saya menyebut orang ini ya. Teman? Baiklah saya akan meyebut orang ini teman *nyengir kuda*. Ya, saya sempat memaksa satu teman saya untuk berduet. Akhirnya kami menulis satu cerita fiksi yang berlatar belakang Korea. Hanya sebuah cerita singkat bodoh. Selain di blog, kami juga memuat cerita itu di blog Kokorea-an yang di mana kami berdua merupakan salah dua dari sekian adminnya. Salah satu tokoh yang kami gunakan kebetulan adalah salah satu artis favorit saya. Dan karena saya bosen nggak begitu banyak kerjaan, saya mengajak teman saya itu untuk kembali berduet untuk meneruskan fiksi itu. Awalnya kami hanya ingin membuat satu cerita (one shot) dengan versi lebih panjang. Namun ternyata menjadi lebih panjang dan akhirnya kami membuatnya menjadi 4 bagian. Bagian terakhirnya saat tulisan ini dibuat masih dalam proses penyelesaian dan pengeditan. Cerita itu berjudul “Carnival”.

Carnival memiliki kisah romantisme sederhana. Dimana ada seseorang bernama Yang Seungho (diambil dari karakter dengan nama yang sama dari grup pria MBLAQ) dekat dengan seorang gadis bernama Lim Hyuna (yang diambil dari karakter Lizzy dari grup wanita After School). Kemudian muncullah seorang gadis dari masa lalu bernama Park Soyeon (karakternya diambil dari satu personil grup wanita T-ara).

Apa yang membuat cerita ini berbeda? Menurut saya, fan fiction (begitu kami lebih suka menyebutnya) yang berdasar artis-artis Korea yang pernah saya baca tidak banyak (atau tidak ada?) yang memuaskan imajinasi saya. Menurut saya, terlalu bertele-tele. Jadi, tidak cocok dengan daya pikir saya yang singkat dan hanya sepotong-potong saja. Yang ternyata, teman saya juga seperti itu.  Yang sepertinya, ini diakibatkan terlalu banyak membaca komik. Maka kami pikir, menggabungkan dua otak yang cuma sanggup berpikir sepotong-potong mungkin bagus juga untuk dijadikan satu keutuhan. Continue reading