作文 : 私のせいかつ

Halo..

Ini adalah karangan saya (DENGAN MELALUI BANYAK YANG SALAH). Adalah PR menulis karangan saya yang kedua. Di tulisan ini, beberapa kanji harus saya cek bolak-balik ke kamus karena saya cuma tahu hiragananya ^^

******

私のせいかつ

 

私のせいかつについて話しましょう。

私は毎朝5時に起きます。起きるとお祈りをします。私より母は先に出かけますから、私は母が料理を作るのを手伝います。

私の仕事はインドネシア語の教師で、外人に教えます。月曜日から金曜日まで仕事をします。でも、その間に勤務時間は同じではありません。朝8時に始まったり、午後2時に始まったりします。仕事をしないで、家にいる場合もあります。

教えるときには、いろいろなほうほうで教えます。たとえば、質問したり、質問に答えたりして、会話を教えます。会話だけなく、書き方も読み方も作文も教えます。

教えるときにもおおぜいの人に会えます。おもしろい人もおもしろくない人もいます。

私は仕事が好きですけど、今月でこの仕事が終わることにします。

もう一時間ぐらい毎週の土曜日エバーグリーン日本語学校へ行っています。その学校で日本語を勉強しています。クラスが終わるとき、すぐ家へ帰らないで、時々友だちとジュースを飲みに行きます。

 

 

 

Postcards : People

HOREEE… Saya pamer lagi. Sebenernya pengen punya blog yang khusus mamerin kartu pos – kartu pos saya tapiii.. dengan berbagai alasan, ya udahlah. Kalo niat ya dipamerin, kalo nggak, ya udah disimpen dalam hati dan kenangan *tsaaaah..*

Saya menghargai setiap kartu pos yang dikirim ke saya, tapi saya tidak menampik saya juga punya kesukaan gambar. Salah satu yang saya suka adalah orang. Alasannya adalah karena saya suka ngeliatin orang-orang (Apalagi kalo orangnya ganteng). Pamer kartu pos bergambar orang ini saya pilih dari kartu pos yang orangnya adalah single-shot (halah iki artine opo). Eh apapun itu arti sebenarnya, maksud saya bukan kartu pos yang terdiri dari berbagai peristiwa tapi satu objek foto saja.

Yuk, simak hobi pamer saya ini. Saya membaginya ke dalam dua kategori.. Continue reading

Postcards : Lottery Winner

Pada sebuah forum postcrossing, mereka menyediakan bagian “Lottery” di mana di seksi ini banyak orang bermurah hati untuk berbagi-bagi kartu pos secara cuma-cuma. Terkadang memang dengan beberapa persyaratan, namun biasanya persyaratannya amatlah mudah. Terkadang pula cukup mencantumkan nama saja.

Saya sendiri pernah membuat lotere berupa kartu pos ASEAN yang gambarnya..nnngg.. pernah lihat Kantor ASEAN yang di Sisingamangaraja? Di salah satu dindingnya, ada gambar “People of ASEAN” di mana termuat orang-orang dari 10 negara. Dan gambar itulah yang menjadi gambar di kartu pos saya. (Dan kartu pos itu juga hasil comotan waktu ada pameran foto di Japan Foundation).

Eniwe, walaupun tidak memantau setiap hari, kalau ingat saya juga ikut lotere-lotere yang bertebaran.

Dari beberapa lotere yang saya ikuti, akhirnyaa…. AKHIRNYA… Sodara-sodara. SAYA MENANG!!! UWOHOHOHOHOHOHO…HOREEEE!!!!!!!

 

Continue reading

Dia

Cinta, persahabatan, kesetiaan, rindu. Semua kata manis yang terangkai indah, tertinggal dalam setiap sajak. Aku membenci semua itu. Pada saat dimana aku terkurung dalam magisnya setiap kata, nyatanya aku hanya mendapatkan luka. Dan sekarang aku berlari, jauh. Mengutuk setiap kata itu. Aku telah mati, dalam rasa.

~~ Continue reading

Dan, Semuanya Hilang

Maaa… kirim lagi ya Ma uangnya, Icha mau beli buku lagi.. banyak banget deh Ma,” Icha merajuk lagi menelepon mama. Bulan ini sudah ketiga kalinya, Icha minta uang kiriman tambahan.

Iya, sayang, nanti jam makan siang mama transfer ya.. Belajar yang rajin ya nak ya…“, Mama menjawab dengan sabar di seberang. Dan, apa yang tak diberikan Mama untuk Icha, anak semata wayang mama.

Tak perlu menunggu lama, Icha sudah bisa melihat saldo di rekeningnya bertambah, bahkan lebih dari yang ia harapkan. Ini hari Jum’at, Icha sudah siap hangout bareng temen-temennya. Dimulai dari makan bareng, belanja bareng, sampai hura-hura bareng. Begitu terus.

Cha, hari ini aku mau ke salon dulu deh, kamu mau join kan? Ini rambut aku udah harus dipermak lagi biar kece,” kejut Rena yang udah siap ngabisin weekend bareng temen-temen mereka.

Iya lah, sekalian aku juga mau facial, ini muka udah tebel banget deh rasanya… Yaudah, biar gak kelamaan, kita berangkat aja yuuk…,” ajak Icha seraya menggeret Rena. Continue reading

Aku Datang

Kamera, Check! Handphone, Check! Lightstick, Check! Lim Hyuna menggigit-gigit ibu jarinya. Memikirkan barang apa lagi yang seharusnya atau sebaiknya ia bawa. Hari itu hari Minggu pagi namun ia telah berpakaian rapi. Ia bahkan telah mencuci rambutnya, memakai sentuhan bedak pada wajahnya, dan memoleskan pemerah bibir pada bibir tipisnya. Masih berpikir, ia mondar-mandir di dalam kamarnya. Kemudian ia berpikir dan menjentikkan jarinya seperti dalam film-film saat seseorang memiliki ide cemerlang. “Ah ya, Bodoh sekali aku ini. Aku belum menyiapkan uang dan tiketnya!”.

Dengan sigap ia menyambar dompet birunya dan sehelai tiket konser. Bukan tiket VIP atau rock pitt dan memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertatap mata langsung dengan idolanya tapi dengan resiko siap menghadapi barisan remaja pemuja idola mereka dan bisa sewaktu-waktu memukulnya dengan lightstick jika ia menghalangi pandangan dengan tubuh tingginya. Tapi itu lebih baik daripada tidak bisa menonton konser sama sekali. Tiket duduk pun tak apa, pikirnya. “Olympic Stadium. I’m coming, baby.” Continue reading

Sepenggal Kisah di Metro Mini

Prakiraan cuaca kemarin mengatakan bahwa Jakarta akan diguyur hujan hari ini. Sang pewarta juga sempat mengatakan bahwa sebaiknya warga yang hendak bepergian bersiap-siap akan angin kencang dan yang sedang marak pula, pohon tumbang.

Airin menyeka keringatnya. Hari ini panas. Ia mendengus sebal. Merasa bahwa seharusnya ia sadar, yang dikatakan hanyalah prakiraan, yang berarti itu adalah sebuah ketidakpastian.

Jarum jam menunjukkan jam 9 pagi tapi panasnya terasa seperti tengah hari. Kendaraan masih merayap lambat. Mendenguskan asap-asap penuh racun yang dalam kenyataannya harus dihisap oleh makhluk bernama manusia. Airin merogoh tasnya, mengambil masker dan menggantungkannya di telinganya. Ia melihat ke arah kanan, menanti Metro Mini yang akan membawanya ke kampus tersayang.

Jarum panjang menuju ke angka 2, sebuah bus melaju lambat. “Yak, kosong-kosong mbak, kosong duduk, duduk”, ujar seorang pria. Airin melangkahkan kaki kanannya, memilih tempat duduk yang dirasa tidak terlalu terkena sorotan sang bintang paling cemerlang, sang matahari.

Belum ada satu menit ia mencoba membuat dirinya nyaman, seorang gadis kecil naik ke atas metro mini.

Assalamualaikum. Ya, permisi ya Bapak Ibu ya, maaf mengganggu kenyamanan anda. Saya di sini hanya numpang ngamen”.

Tak lama kemudian, dengan suaranya yang nyaring ia menyanyikan sebuah lagu mendayu dari sebuah grup band terkenal. Setelah selesai mencoba menghibur, ia meminta imbalan jasa dari para penumpang. Airin merogoh dompet kecilnya yang berisi sekumpulan logam. Tanpa berpikir apapun, ia memberikan sekeping lima ratus rupiah ke dalam kantung bekas permen milik gadis kecil itu.

Lima menit kemudian, datanglah penghibur kedua. Kali ini pria dewasa dengan potongan sederhana. Ia membawa gitar yang ditempelkan sebuah gambar bibir dengan lidah menjulur. Airin menghela nafas. “Hhh.. Yang kedua. Pagi ini berapa yang akan naik ke bis?”, pikirnya.

Tanpa sangka, sang pengamen berhasil membuat Airin sedikit membelalakkan mata. Ia menyanyikan sebuah lagu berbahasa Inggris yang walaupun dilafalkan tidak fasih namun suaranya tidak kalah dengan artis nasional yang menyanyi di televisi. Karena kagum dan takjubnya, tanpa ragu ia merogoh dompetnya, kali ini bukan yang kecil dan memberikan selembar uang kertas dengan tiga buah nol sebagai nominalnya.

Selepas itu, tanpa jeda. Naiklah tiga orang laki-laki. Berpakaian serba hitam. Memiliki hiasan gambar berwarna tidak menarik di tangannya. Rambut berwarna yang berdiri kaku. Pakaian menempel badan. Logam bertaburan di wajahnya. Lalu berbicara. Atau mungkin bisa disebut berteriak. Sambil mengeluarkan silet dan kertas dari dalam kantungnya.

“Permisi Bapak-Ibu sekalian, mohon maaf mengganggu kenyamanan Bapak dan Ibu sekalian. Kami di sini hanya mencari sesuap nasi, dari pada kami melakukan tindak criminal demi sesuap nasi, maka kami lebih memilih untuk mengais rizki dari kebaikan Bapak dan Ibu lewat kepingan-kepingan rupiah yang Bapak dan Ibu punya”

Setelah berkata demikian, ketiganya melakukan sebuah atraksi yang sama, ketiganya sama-sama mengunyah beberapa silet  yang sudah mereka sediakan. Airin yang duduk di bagian pujuk metro mini langsung mual melihat atraksi mereka dan menutup matanya dengan buku yang ia bawa.

Setelah selesai memberikan sebuah pertunjukan kepada penumpang metro mini, mereka mulai meminta imbalan jasa kepada penumpang. Airin mengeluarkan uang lima ratus rupiah dan memberikannya dengan wajah masam. Dia masih sebel dengan pertunjukan yang baru saja mereka lakukan. Tiga orang laki-laki tadi sudah selesai meminta imbalan jasa, dan melihat tidak banyak dari penumpang yang memberi, terdengar jelas dari kedua telinga Airin, seorang dari tiga laki-laki itu berkata,

 “Semua penumpang ini tidak punya hati, pelit, apa susahnya memberi lima ratus rupiah saja” dan setelah mengucapkan kalimat itu, mereka langsung turun.

Muka Airin langsung berkerut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, bukannya mengucap terimakasih, tapi laki-laki itu malah menggerutu dan mencela penumpang-penumpang yang tidak memberikan imbalan jasa atas apa yang mereka lakukan. Penumpang juga tidak mengharapkan kehadiran mereka, gerutunya di dalam hati, hatinya menggerutu dan terpancar jelas ketidaksukaannya terhadap tiga orang laki-laki yang baru saja turun.

Ada apa dengan mukamu nak? “, tiba-tiba seorang Ibu bertanya kepada Airin yang masih memamerkan mukanya yang cemberut.

Ia mencoba untuk tersenyum, dan menjawab Tanya Ibu tersebut

Nggak apa-apa Bu, saya hanya tidak habis piker aja dengan tiga orang laki-laki yang baru saja turun, bukannya terimakasih, tapi mereka malah mencela

Ibu itu tersenyum mendengar apa yang diucapkan  Airin dan berkata, ‘”Itu manusiawi nak, kadang susah untuk membalas kebaikan orang lain dengan sebuah senyuman yang tulus, kerap kali kita lupa bagaimana melakukan sesuatu dengan tulus. Dan jangan engkau pupuk amarahmu ya nak, biarkan saja mereka berkata demikian, yang perlu kamu lakukan adalah berusaha untuk tulus memberi tanpa mengharapkan mereka akan membalas apa yang baru saja engkau berikan kepada mereka”.

Airin tersenyum mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Ibu tersebut.

‘Ketulusan akan membentuk kebijaksanaan, dan dengan kebijaksanaan itu engkau akan tersenyum”

______________

Tulisan kolaborasi :  Arian Sahidi dan OpatHebat