Seorang kawan belum lama ini menanyakan kenapa saya ikut postcrossing? Saya menjawab, “Karena tidak punya teman”.
Kawan saya itu kemudian tertawa mendengar jawaban saya. Saya tidak tersinggung, tentu saja. Hanya saja saya sedikit heran, apa yang lucu dari itu?
Saya memang suka menerima kiriman. Menanti kedatangan pria bermotor oranye dan berteriak, “Pos!” (yang sering saya lewatkan karena pos datang di jam kerja saya). Saya juga sangat menyukai menjilat perangko untuk ditempel, yang mana ini terkadang saya suka malu kalau-kalau ada yang jijik melihat ada seorang perempuan asik menjilat-jilat di kantor pos. Saya juga menyukai tulisan tangan seseorang. Bagi saya itu sangat indah dan menakjubkan.
Tapi kalau mau ditelisik lebih lanjut, “tidak punya teman” adalah alasan yang sangat mendasar. Saya memang punya teman karena bersekolah, berkuliah, atau berkegiatan lainnya. Kami kemudian akrab namun kemudian harus berpisah. Kadang-kadang saya suka bersedih memandangi bahwa itulah hidup.
Lewat kartu pos, saya belajar lebih untuk sekedar menyapa. Bahwa suatu pertemanan terkadang tidak perlulah untuk menjadi berakrab-akrab. Namun lewat kartu pos pula, saya belajar untuk berteman. Bahwa suatu pertemanan yang berakrab-akrab tidak perlulah untuk bertemu.