Tidak Bekerja – Hari Pertama

Terhitung 1 Maret, yang adalah hari ini, saya resmi menerima gaji terakhir saya setelah bekerja selama 17 bulan lamanya di salah satu lembaga bernama SIB School. Jadi, saya resmi pula meminta nafkah dari orang tua saya lagi. Jadi pertanyaannya, Ada yang mau nafkahin saya? Eh, tidak ada ya? Baiklah saya lanjutkan curhatnya.

Orang bilang, waktu itu apabila telah terlewati maka tidak terasa telah terlewati. KATA SIAPA?? SAPA YANG BERANI BILANG GITU, HAH?? *elus-elus kumis dada*. Bertemu dengan banyak orang, ya, sebut saja bule, memang tidak bisa dikatakan tidak mengasyikkan. Banyak dari mereka sangat menarik, inspiratif, baik hati, juga motivasional (eh apa sih maksud saya memberi motivasi gitu lho). Walaupun ada juga yang tidak menarik, menyebalkan, minta ditabok, malas ngajarin, tapi itu tetap saya jalani sehari-harinya (Yah, walaupun kadang-kadang banyak hari saya cuma glundang glundung di rumah). Dan 17 bulan itu, terasa panjang bagi saya, sampai sekarang.

Kemarin waktu saya nongkrong-nongkrong depan TV di kantor, saya mikir ternyata saya bakal sedih juga ya meninggalkan kantor ini. Saya nggak bakal nyangka lho bakal sedih. Tapi yah, bagaimanapun saya sudah mendapat sweet 17 months dari orang-orang di sini.

Kepada Pak Big Boss yang selalu menyangka saya orang yang suka tersenyum dan ramah, Ibu Bos yang lembut hatinya, Kakak Ay yang setia dengerin saya memel gak karuan, kakak-kakak yang sudah mendahului saya, kakak-kakak yang masih setia dengan Pak Big Boss, juga adik-adik yang suka nggemesin saya, sampai jumpa di pesta perpisahan saya satu minggu lagi. Jangan lupa bawa kado yaa ^^

Continue reading

作文 : 私のせいかつ

Halo..

Ini adalah karangan saya (DENGAN MELALUI BANYAK YANG SALAH). Adalah PR menulis karangan saya yang kedua. Di tulisan ini, beberapa kanji harus saya cek bolak-balik ke kamus karena saya cuma tahu hiragananya ^^

******

私のせいかつ

 

私のせいかつについて話しましょう。

私は毎朝5時に起きます。起きるとお祈りをします。私より母は先に出かけますから、私は母が料理を作るのを手伝います。

私の仕事はインドネシア語の教師で、外人に教えます。月曜日から金曜日まで仕事をします。でも、その間に勤務時間は同じではありません。朝8時に始まったり、午後2時に始まったりします。仕事をしないで、家にいる場合もあります。

教えるときには、いろいろなほうほうで教えます。たとえば、質問したり、質問に答えたりして、会話を教えます。会話だけなく、書き方も読み方も作文も教えます。

教えるときにもおおぜいの人に会えます。おもしろい人もおもしろくない人もいます。

私は仕事が好きですけど、今月でこの仕事が終わることにします。

もう一時間ぐらい毎週の土曜日エバーグリーン日本語学校へ行っています。その学校で日本語を勉強しています。クラスが終わるとき、すぐ家へ帰らないで、時々友だちとジュースを飲みに行きます。

 

 

 

Postcards : People

HOREEE… Saya pamer lagi. Sebenernya pengen punya blog yang khusus mamerin kartu pos – kartu pos saya tapiii.. dengan berbagai alasan, ya udahlah. Kalo niat ya dipamerin, kalo nggak, ya udah disimpen dalam hati dan kenangan *tsaaaah..*

Saya menghargai setiap kartu pos yang dikirim ke saya, tapi saya tidak menampik saya juga punya kesukaan gambar. Salah satu yang saya suka adalah orang. Alasannya adalah karena saya suka ngeliatin orang-orang (Apalagi kalo orangnya ganteng). Pamer kartu pos bergambar orang ini saya pilih dari kartu pos yang orangnya adalah single-shot (halah iki artine opo). Eh apapun itu arti sebenarnya, maksud saya bukan kartu pos yang terdiri dari berbagai peristiwa tapi satu objek foto saja.

Yuk, simak hobi pamer saya ini. Saya membaginya ke dalam dua kategori.. Continue reading

Postcards : Lottery Winner

Pada sebuah forum postcrossing, mereka menyediakan bagian “Lottery” di mana di seksi ini banyak orang bermurah hati untuk berbagi-bagi kartu pos secara cuma-cuma. Terkadang memang dengan beberapa persyaratan, namun biasanya persyaratannya amatlah mudah. Terkadang pula cukup mencantumkan nama saja.

Saya sendiri pernah membuat lotere berupa kartu pos ASEAN yang gambarnya..nnngg.. pernah lihat Kantor ASEAN yang di Sisingamangaraja? Di salah satu dindingnya, ada gambar “People of ASEAN” di mana termuat orang-orang dari 10 negara. Dan gambar itulah yang menjadi gambar di kartu pos saya. (Dan kartu pos itu juga hasil comotan waktu ada pameran foto di Japan Foundation).

Eniwe, walaupun tidak memantau setiap hari, kalau ingat saya juga ikut lotere-lotere yang bertebaran.

Dari beberapa lotere yang saya ikuti, akhirnyaa…. AKHIRNYA… Sodara-sodara. SAYA MENANG!!! UWOHOHOHOHOHOHO…HOREEEE!!!!!!!

 

Continue reading

Dia

Cinta, persahabatan, kesetiaan, rindu. Semua kata manis yang terangkai indah, tertinggal dalam setiap sajak. Aku membenci semua itu. Pada saat dimana aku terkurung dalam magisnya setiap kata, nyatanya aku hanya mendapatkan luka. Dan sekarang aku berlari, jauh. Mengutuk setiap kata itu. Aku telah mati, dalam rasa.

~~ Continue reading

Dan, Semuanya Hilang

Maaa… kirim lagi ya Ma uangnya, Icha mau beli buku lagi.. banyak banget deh Ma,” Icha merajuk lagi menelepon mama. Bulan ini sudah ketiga kalinya, Icha minta uang kiriman tambahan.

Iya, sayang, nanti jam makan siang mama transfer ya.. Belajar yang rajin ya nak ya…“, Mama menjawab dengan sabar di seberang. Dan, apa yang tak diberikan Mama untuk Icha, anak semata wayang mama.

Tak perlu menunggu lama, Icha sudah bisa melihat saldo di rekeningnya bertambah, bahkan lebih dari yang ia harapkan. Ini hari Jum’at, Icha sudah siap hangout bareng temen-temennya. Dimulai dari makan bareng, belanja bareng, sampai hura-hura bareng. Begitu terus.

Cha, hari ini aku mau ke salon dulu deh, kamu mau join kan? Ini rambut aku udah harus dipermak lagi biar kece,” kejut Rena yang udah siap ngabisin weekend bareng temen-temen mereka.

Iya lah, sekalian aku juga mau facial, ini muka udah tebel banget deh rasanya… Yaudah, biar gak kelamaan, kita berangkat aja yuuk…,” ajak Icha seraya menggeret Rena. Continue reading

Aku Datang

Kamera, Check! Handphone, Check! Lightstick, Check! Lim Hyuna menggigit-gigit ibu jarinya. Memikirkan barang apa lagi yang seharusnya atau sebaiknya ia bawa. Hari itu hari Minggu pagi namun ia telah berpakaian rapi. Ia bahkan telah mencuci rambutnya, memakai sentuhan bedak pada wajahnya, dan memoleskan pemerah bibir pada bibir tipisnya. Masih berpikir, ia mondar-mandir di dalam kamarnya. Kemudian ia berpikir dan menjentikkan jarinya seperti dalam film-film saat seseorang memiliki ide cemerlang. “Ah ya, Bodoh sekali aku ini. Aku belum menyiapkan uang dan tiketnya!”.

Dengan sigap ia menyambar dompet birunya dan sehelai tiket konser. Bukan tiket VIP atau rock pitt dan memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertatap mata langsung dengan idolanya tapi dengan resiko siap menghadapi barisan remaja pemuja idola mereka dan bisa sewaktu-waktu memukulnya dengan lightstick jika ia menghalangi pandangan dengan tubuh tingginya. Tapi itu lebih baik daripada tidak bisa menonton konser sama sekali. Tiket duduk pun tak apa, pikirnya. “Olympic Stadium. I’m coming, baby.” Continue reading