Soal Kerjaan Baru

Yeaah.. Yeah.. Ngakunya kerja tapi kok ngeblog mulu. Ahahahahaha.. Yah gimana sih ya =))

Mulai bulan April hari pertama lalu, saya secara resmi masuk ke satu perusahaan.  Sekantor (Atau saya lebih suka menyebutnya Unit A. Kenapa? Ya suka-suka saya sih) waktu itu ada 14 orang sudah termasuk saya.  Tapi karena ada perusahaan yang lagi numpang ditambah beberapa orang lagi yang membuat suasana lebih ramai. Kemudian ya pas-pasnya itu lagi ada orang silih berganti  dan itu perusahaan yang numpang sudah pindah permanen ke tempat aslinya, jadi sekarang hanya ada 12 orang.  Saya termasuk orang yang cepat betah dalam menerima sesuatu hal baru. Selain itu tidak ada masalah serius jadi saya cukup nyaman-nyaman saja di tempat baru itu.

Jarak dari rumah ke unit A juga tidak begitu jauh. Kalo nggak macet 15 menit nyampe. Tapi yah Jekarrda.. Lagipula saya juga menghemat diri dengan berjalan kaki setelah berhenti dari angkutan pertama. Sekalian olahraga sih. 10-15 menit jalan kaki sambil kuping disumpel earphone dan bisa sambil nyanyi-nyanyi di jalan (yes I do singing di jalan) is totally a bless.

Pekerjaan saya tidak berat dan tidak sulit (menurut saya sih) tapi saya bisa belajar banyak hal baru. Yah seperti yang sudah pernah saya tulis, soal galangan kapal, adapula soal Letter of Credit yang saya beberapa kali obrolkan sama si ibu bankir, soal kurs pajak, soal nanas, soal traktor, pokoknya yang belum saya pernah denger deh. Saya bukan workaholic tapi saya merasa selalu menikmati setiap proses pekerjaan saya. Saya menikmati harus menelepon klien walaupun saya harus ngos-ngosan setelahnya karena nada bicara nggak bisa seperti biasa – cranky dan judes. Saya bahkan suka mengangkat telepon (karena nggak ada operator di unit A) dan senang sekali ketika secara tiba-tiba orang Head Quarter yang biasanya minta langsung ngomong sama orang lain menyapa saya “How are you? How’s the weather in Jakarta?”.

Saya suka ketika saya harus bekerja tidak berhenti. Tapi entah kenapa itu jarang sekali. Hakhakhakhak. Salah satu resiko perkerjaan saya adalah menunggu. Nyebelin yeah I know. Tapi saya harus berhenti mengeluh. Saya sudah pernah ada di masa goler-goler bete galau nggak ada kerjaan, dalam suasana males baca, dan benwit internet yang kacrut, di kamar tidur yang panas dan menggoda banget buat nggak ngapa-ngapain selain tidur. Maka saya baru memulai kesukaan baru dengan browsing-browsing hal baru, ngeblog lancar jaya, mencari perbendaharaan kata akibat penguasaan bahasa yang minim, atau yah kadang-kadang sedikit belajar mengenai pekerjaan (yang itu adalah jarang sekali).

Dan tentu saja yang paling menarik adalah orang-orang di sekitar saya. Waktu saya belum pindah cubicle (yang sekarang adalah di depan Pak Bos besar gara-gara Pak Bos Kecil pindah tugas trus Pak Bos besar malah keluar dari ruangannya), saya suka banget tuh bukain pintu buat bapak-bapak kurir. Sekarang lebih jarang sih karena lebih mager tapi yah demi olahraga dan emang karena nggak punya kerjaan jadi kadang-kadang saya bukain. Hakhak. Trus saya jadi lebih deket posisinya dengan yang lain. Bahkan dengan pantulan layar komputer yang wallpaper-nya saya biarkan hanya hitam semata, saya bisa mantengin itu mereka orang lagi pada ngapain *stalker minded*. Dengan jumlah orang yang tidak terlalu banyak ini, sosialisasi dan nyari gebetan mungkin tidak begitu luas tapi mungkin juga bagus mengingat saya yang cukup insekyur ini bisa belajar menambah teman-teman pelan-pelan.

Yang agak bahayanya, saya punya kemampuan dan kecenderungan untuk mendengarkan percakapan orang lain *again, stalker minded*, nah di cubicle yang baru ini, jangkauan nguping saya lebih mudah. Dan berhubung saya ngerti sedikit bahasa lain dari beberapa orang yang ada di sini, jadi saya harus lebih pintar masang muka poker face kalo-kalo mereka ngucapin hal-hal yang pengen bikin saya ngekek.  Biasanya paling saya suka seyum-senyum sendiri tapi kemarin saya gagal sih, saya beneran ngekek sampe berkali-kali ditanyain sama Mbak sebelah saya “Kenapa lo?”

Tentu saja saya terkadang cemas dan sampai kapan saya bisa bertahan dengan segala kerutinan ini. Tidak tahu sampai kapan dan tidak tahu kapan akan tahu. Tapi untuk saat ini, mari kita berbahagia :)

Yes It Really Really Could Happen

153980

Teenager me ; playing my walkman, repeating their whole lyrics – over and over again.

“How we like to sing along, though the words are wrong”

Two days ago me : rolling on the bed kept saying I want to go to their concert so bad

“Every paper that you read says tomorrow is your lucky day, well here’s your lucky day”

Now me : managed to screaming out loud the songs together with them.

“Yes It really really could happen”

Blur – The Universal

image

Tuhan Bersama Orang-orang Galangan Kapal

Pasir_Panjang_terminal,_Singapore_PSA

Saya lagi suka kalimat itu. Yah agak salah juga sih mengingat saya sebenarnya percaya bahwa Tuhan bersama seluruh umat manusia. Tapi postingan ini bukan soal keagamaan atau yang berkenaan dengan itu sih *senyum bijak* *bijak sawah*.

Pekerjaan saya sekarang memang ada hubungannya dengan galangan kapal. Yah adalah pokoknya, nggak usah dikasih tau detilnya. Tadinya saya biasa aja, sampai suatu hari Pak Marketing menyuruh saya untuk meminta nomor kontak penanggung jawab satu pelabuhan tertentu dan menghubunginya. Dan setelah merenung karena nggak ada kerjaan , saya jadi merasa terharu sendiri dengan orang-orang galangan kapal.

Waktu itu kalau tidak salah kami membicarakan tentang kapal yang akan mendarat pada jam tengah malam. Yang ada di bayangan saya adalah para stevedore yang angkut pikul barang-barang di punggung. Yah ada sih yang seperti itu tapi kapal yang berhubungan saya sih kayaknya pake mesin. Tapi tetep aja, saya yang melankolis sensitif ini *PLAK* jadi terharu sendiri.

Tuhan bersama orang-orang galangan kapal. Dan para pekerja di pasar. Juga tukang truk sampah. Dan banyak lagi.

Picture taken from here

Betapa ..

Betapa manusia itu memang maruk. Kurang nggak. Tapi pengennya lebih.

Betapa niat dan tujuan itu amatlah penting. Jadi kalau lagi menjadi iri dengki dan memiliki bermacam penyakit hati, kembalilah lagi ke niat awal, kembalilah lagi ke tujuan awal.

Betapa sebenarnya yang ada di hadapan itu sungguh luas terbuka peluang untuk meraih tujuan. Hanya saja terkadang karena pemandangan kanan-kiri, malah lebih terpukau kepada pemandangannya.

Betapa aku mencintaimu menyukaimu, sayang.. Ayo kita kencan. JRREEEENGGG…..